20 Des 2015

Jaka Sesuruh Bukan Nama Lain Raden Wijaya


(copy paste tanpa edit dari akun Facebook milik Rakryan Purwa-anta Mpu Heri)

Menyambung postingan saya beberapa waktu yang lalu tentang daftar raja-raja Jawa versi fantasi dan versi histori, maka artikel kali ini khusus mengulas tokoh pendiri Kerajaan Majapahit, yaitu Raden Wijaya yang sering disebut juga dengan nama Jaka Sesuruh. Pertanyaannya, apakah benar Jaka Sesuruh adalah nama lain Raden Wijaya?


Raden Wijaya adalah pendiri Majapahit menurut kitab Pararaton, dan ini terbukti kebenarannya karena sesuai dengan nama yang ditemukan dalam kakawin Nagarakretagama (1365), yaitu Dyah Wijaya. Adapun nama yang lebih panjang ditemukan dalam prasasti Kudadu (1294), yaitu Nararya Sanggramawijaya.

Sementara itu, Jaka Sesuruh adalah pendiri Majapahit versi Babad Tanah Jawi dan naskah-naskah turunannya, seperti Babad Majapahit, Babad Segaluh, Serat Pranitiradya, Serat Pustakaraja, dan babad-babad lainnya. Kitab-kitab tersebut ditulis ratusan tahun setelah Majapahit runtuh sehingga isinya bersifat fantastis dan melenceng dari fakta historis. Namun demikian, masih banyak di antara kita yang mencoba mengawinkan Babad Tanah Jawi dengan Pararaton, sehingga menerima bahwa Jaka Sesuruh adalah nama lain Raden Wijaya.

Pertanyaan pun saya perjelas. Apa buktinya kalau Raden Wijaya memiliki nama lain Jaka Sesuruh? Apakah ada prasasti atau kakawin peninggalan Majapahit yang menyebut Jaka Sesuruh sebagai nama lain Dyah Wijaya? Jawabnya : tidak ada.

Bahkan, pada zaman Majapahit nama “Jaka” belum lazim digunakan oleh kaum laki-laki. Terbukti, dalam kitab Pararaton sama sekali tidak dijumpai adanya tokoh yang mengandung unsur nama Jaka. Jika demikian, lantas penulis Babad Tanah Jawi dapat ide dari mana mengarang nama Jaka Sesuruh sebagai pendiri Majapahit?

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak uraian berikut ini …

KISAH HIDUP RADEN WIJAYA, PENDIRI MAJAPAHIT VERSI HISTORI

Menurut kakawin Nagarakretagama, Dyah Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, atau cucu Bhattara Narasinghamurti dari Kerajaan Tumapel. Pada tahun 1292 kedaton Singhasari (ibu kota Tumapel) diserang dari utara oleh bawahannya sendiri, yaitu Jayakatwang raja Gelang-Gelang. Sri Kertanagara raja Tumapel pun mengirimkan pasukan untuk menumpas, yang dipimpin kedua menantunya, yaitu Dyah Wijaya dan Dyah Ardharaja. Tak disangka, serangan tersebut hanyalah pancingan, karena pasukan induk Jayakatwang justru menyerang Singhasari dari arah selatan. Sri Kertanagara pun tewas akibat pemberontakan ini.

Dyah Ardharaja yang juga putra Sri Jayakatwang kemudian berbalik meninggalkan Dyah Wijaya untuk bergabung dengan pihak ayahnya. Dyah Wijaya yang tadinya unggul dalam menghadapi serangan pancingan di utara tersebut, kini ganti dikejar-kejar oleh pihak pemberontak. Hingga akhirnya, dengan jumlah prajurit yang tinggal dua belas orang, ia berhasil menyeberang ke Madhura untuk meminta bantuan Banyak Wide, adipati Songeneb yang juga bergelar Arya Wiraraja. Kisah perjalanan Dyah Wijaya ini tertulis secara lengkap dalam prasasti Kudadu tahun 1294 (selisih dua tahun saja setelah Singhasari runtuh).

Banyak Wide pun memberikan jaminan, sehingga Sri Jayakatwang bersedia menerima Dyah Wijaya yang pura-pura menyerah. Selanjutnya, Dyah Wijaya mendapatkan sebidang tanah di Hutan Tarik untuk kemudian dibuka menjadi permukiman bernama Majapahit.

Pada tahun 1293 datanglah pasukan Dinasti Yuan yang dikirim oleh Kaisar Shizu alias Khubilai Khan. Pasukan ini dipimpin oleh Shi Bi, Yighmis, dan Gao Xing. Kedatangan mereka bertujuan untuk menaklukkan Sri Kertanagara raja Tumapel agar tunduk kepada Dinasti Yuan. Dyah Wijaya pun memanfaatkan kedatangan mereka. Dengan mengaku sebagai ahli waris Sri Kertanagara, ia bersedia menyatakan tunduk kepada Kaisar Shizu, namun terlebih dulu pasukan Dinasti Yuan harus membantunya untuk merdeka dari kekuasaan Sri Jayakatwang yang kini beristana di kota Daha.

Maka, pasukan Dinasti Yuan dan Majapahit pun bergabung menyerang kota Daha dan berhasil mengalahkan Sri Jayakatwang. Akan tetapi, Dyah Wijaya kemudian berbalik menghantam pasukan asing tersebut dari belakang. Setelah kehilangan 15% total prajurit, Shi Bi pun menarik mundur pasukannya kembali ke Tiongkok. Kisah kegagalan Dinasti Yuan dalam usaha menaklukkan Tanah Jawa ini tercatat dengan rinci dalam naskah Yuanshi.

Dyah Wijaya kini telah merdeka. Ia pun meresmikan Majapahit menjadi kerajaan penerus Tumapel, di mana dirinya sebagai raja pertama bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Sesuai perjanjian di awal, ia pun memberikan setengah wilayah kerajaan kepada Banyak Wide alias Arya Wiraraja yang dianggap sangat berjasa dalam pendirian Kerajaan Majapahit.

RIWAYAT JAKA SESURUH, PENDIRI MAJAPAHIT VERSI FANTASI

Berikut ini adalah riwayat berdirinya Majapahit dari sumber Babad Tanah Jawi dan naskah-naskah turunannya :

Raja Pajajaran bernama Sri Pamekas memiliki dua putra, yaitu Arya Bangah (raja Galuh) dan Raden Sesuruh (putra mahkota Pajajaran). Pada suatu hari ia menguji seorang petapa bernama Ki Ajar Cepaka yang terkenal sakti. Salah seorang selirnya didandani seperti orang hamil dan ditanyakan apakah anaknya nanti lahir laki-laki ataukah perempuan? Ki Ajar Cepaka menjawab laki-laki. Sri Pamekas merasa senang karena tebakan Ki Ajar Cepaka salah. Ia pun membuka pakaian selirnya untuk membuktikan bahwa kandungan tersebut hanyalah bokor yang dibalut kain. Sungguh ajaib, bokor tersebut tiba-tiba musnah, sedangkan perut sang selir kini benar-benar mengandung. Sri Pamekas merasa dipermainkan dan ia pun menghukum mati Ki Ajar Cepaka.

Para ahli nujum meramalkan bahwa bayi yang dikandung sang selir kelak akan menjadi penyebab kehancuran raja. Maka ketika bayi itu lahir, Sri Pamekas pun berusaha membunuhnya tetapi selalu gagal. Usaha terakhir adalah memasukkan bayi itu ke dalam peti, lalu menghanyutannya di Sungai Krawang, hingga kemudian ditemukan oleh pencari ikan bernama Ki Buyut Krawang suami-istri.

Beberapa tahun kemudian, bayi itu telah tumbuh dewasa dan pada suatu hari ia melihat burung siyung dan wanara (monyet ) di tengah hutan. Maka, pemuda itu pun menamakan dirinya Siyung Wanara.

Siyung Wanara selalu bertanya apakah dirinya memiliki saudara. Ki Buyut Krawang terpaksa mengarang cerita bahwa dirinya memiliki saudara di ibukota Pajajaran yang menjadi pandai besi. Siyung Wanara pun pergi ke sana dan tinggal di rumah pandai besi tersebut. Dalam waktu singkat ia mampu mempelajari ilmu menempa besi, bahkan melunakkan besi dengan jari-jarinya atau menggunakan lutut sebagai alas menempa logam.

Pada suatu hari Siyung Wanara masuk ke dalam istana Pajajaran dan memamerkan kesaktiannya. Sri Pamekas tertarik dan menjadikannya sebagai petugas pengadilan. Kesaktian dan prestasi Siyung Wanara membuatnya semakin disayang raja, bahkan ia pun diakui sebagai anak oleh Sri Pamekas, serta diberi nama baru : Banyak Wide.

Pada suatu hari Sri Pamekas menang perang. Banyak Wide alias Siyung Wanara memberikan hadiah berupa tempat tidur besi yang dilengkapi pintu. Ia mengatakan bahwa, barangsiapa tidur di dalamnya akan mendapatkan kesegaran dan kesehatan. Sri Pamekas percaya dan mencobanya. Banyak Wide tiba-tiba mengunci pintu tempat tidur tersebut dan menenggelamkannya di Sungai Krawang sebagai balas dendam atas peristiwa yang dialaminya semasa bayi dahulu.

Mengetahui ayahnya tewas, Raden Sesuruh datang menyerang Banyak Wide. Dalam pertempuran itu Raden Sesuruh kalah dan melarikan diri ke timur. Ia lalu ditampung seorang janda bernama Nyai Randa Kaligunting. Sementara itu, Banyak Wide alias Siyung Wanara yang telah menjadi raja mengumumkan akan menghukum mati siapa saja warga Pajajaran yang berani melindungi Raden Sesuruh. Nyai Randa Kaligunting ketakutan, lalu mengajak Raden Sesuruh pindah ke timur, keluar dari wilayah Pajajaran.

Dalam perjalanannya, Raden Sesuruh berjumpa petapa sakti bernama Ki Ajar Cemaratunggal di Gunung Kombang. Petapa itu meramalkan bahwa Raden Sesuruh akan menjadi raja besar jika menemukan pohon maja berbuah satu di wilayah timur yang rasanya pahit. Setelah meramalkan demikian, Ki Ajar Cemaratunggal berubah menjadi wanita cantik. Raden Sesuruh terpesona dan ingin menjadikannya istri. Wanita cantik itu musnah dan berkata bahwa ia sesungguhnya putri Pajajaran yang hidup di zaman Prabu Mundingwangi (kakek Raden Sesuruh). Kini ia akan pindah ke Laut Selatan dan menjadi ratu segenap makhluk halus di sana.

Raden Sesuruh meminta maaf atas kelancangannya dan ia pun melanjutkan perjalanan ke timur hingga memasuki wilayah Kerajaan Singasari. Di sana ia menemukan pohon maja berbuah satu yang rasanya pahit. Maka, ia segera membangun sebuah pedukuhan bernama Majapahit di tempat itu dan mengganti namanya menjadi Jaka Sesuruh.

Pada suatu hari Jaka Sesuruh menerima kedatangan kakaknya, yaitu Arya Bangah yang melaporkan bahwa Banyak Wide alias Siyung Wanara telah merebut Kerajaan Galuh dari tangannya. Jaka Sesuruh dan Arya Bangah lalu bergabung menggempur Kerajaan Pajajaran. Banyak Wide dapat dikalahkan. Jaka Sesuruh pun menjadi raja Pajajaran dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Majapahit.

SASTRA KERATON SEBAGAI SARANA LEGITIMASI RAJA

Kitab Babad Tanah Jawi yang memuat riwayat Jaka Sesuruh ditulis pertama kali tahun 1718 oleh Pangeran Adilangu II, pujangga Keraton Kartasura. Dengan demikian, naskah ini disusun setelah Majapahit runtuh hampir dua abad. Itu sebabnya jalan ceritanya sangat berbeda dengan naskah Pararaton, Nagarakretagama, ataupun prasasti Kudadu. Misalnya, tokoh Banyak Wide dalam Pararaton adalah sekutu pendiri Majapahit, sedangkan dalam Babad Tanah Jawi justru disebut sebagai musuh Majapahit.

Begitulah, pada abad ke-18 belum ada studi tentang prasasti dan kakawin, sehingga sejarah Majapahit menjadi kabur dan gelap. Maka, disusunlah kitab sejarah berdasarkan fantasi pujangga yang bermakna simbolis, bukan berdasarkan hasil studi arkeologi ataupun filologi.

G. Moedjanto dalam bukunya “Konsep Kekuasaan Raja Jawa” tahun 1987 menyebutkan bahwa penulisan Babad Tanah Jawi bertujuan untuk menciptakan wibawa Dinasti Mataram yang keturunan kaum petani agar bisa mendapatkan legitimasi sebagai penguasa resmi Tanah Jawa. Untuk itu, disusunlah silsilah bahwa Mataram adalah keturunan Majapahit, sedangkan Majapahit adalah kelanjutan Pajajaran, Pajajaran adalah kelanjutan Jenggala, Jenggala adalah kelanjutan Medang Koripan, Medang Koripan adalah kelanjutan Pengging, Pengging adalah kelanjutan Kediri, dan Kediri adalah keturunan Arjuna (Pandawa) yang sudah “dijawakan”. Tujuannya ialah untuk “pencitraan” bahwa raja-raja Mataram adalah penguasa sah Tanah Jawa karena memiliki darah Majapahit, darah Pajajaran, darah Jenggala, darah Pengging, darah Kediri, bahkan darah Pandawa dari kisah Mahabharata segala.

Babad Tanah Jawi dan turunannya dengan cerdik menyusun silsilah ke atas dengan cara merangkai legenda-legenda Tanah Jawa menjadi satu kesatuan yang urut. Misalnya, cerita Panji, legenda Anglingdarma, kisah Watugunung, dan juga dongeng Pakukuhan. Bahkan, para pujangga juga “meminjam” legenda-legenda dari Tatar Sunda. Mengapa demikian? Karena pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Galuh telah menjadi kadipaten bawahan Mataram, sehingga secara otomatis terjadilah pertukaran budaya Jawa – Sunda. Banyak sekali cerita legenda dari Tatar Sunda yang kemudian diadopsi pujangga Jawa untuk memperkaya khasanah sastra keraton.

Mengapa saya berkata demikian? Karena nama-nama seperti Siyung Wanara, Arya Bangah, dan Jaka Sesuruh yang telah kita baca di atas sesungguhnya adalah nama-nama tokoh cerita tradisional Sunda. Siyung Wanara adalah versi Jawa untuk Ciung Wanara; Arya Bangah adalah versi Jawa untuk Hariang Banga; sedangkan Jaka Sesuruh mengadopsi tokoh legenda dari Kabupaten Ciamis, yaitu Jaka Susuru.

Dengan kata lain, penulis Babad Tanah Jawi tidak mengetahui fakta historis berdirinya Kerajaan Majapahit sehingga meminjam beberapa cerita tradisional Sunda untuk melengkapinya. Hal ini dapat dimaklumi, karena naskah-naskah kakawin seperti Nagarakretagama dan Pararaton telah “diamankan” ke Pulau Bali pasca runtuhnya Majapahit tahun 1527. Hal ini sempat disinggung Thomas Stamford Raffles dalam bukunya, The History of Java.

Bagaimana cerita-cerita tradisional dari Sunda tersebut, marilah kita simak rangkumannya berikut ini …

LEGENDA CIUNG WANARA DAN HARIANG BANGA VERSI SUNDA

Prabu Permanadikusumah raja Medangkamulyan di Bumi Galuh pergi bertapa dan menyerahkan takhta kepada Patih Aria Kebonan. Sebelum berangkat, sang raja berpesan bahwa Patih Aria Kebonan boleh menjadi raja tetapi tidak boleh menyentuh kedua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Patih Aria Kebonan menyanggupi dan ia pun naik takhta bergelar Prabu Barma Wijaya. Akan tetapi, raja baru tersebut mengingkari janji, karena ia berani berselingkuh dengan Dewi Pangrenyep hingga mengandung.

Pada suatu hari terdengar kabar adanya petapa sakti di Gunung Padang bernama Ajar Sukaresi. Prabu Barma Wijaya penasaran ingin menguji kesaktian petapa itu. Dewi Naganingrum pun didandani seperti orang hamil untuk kemudian dibawa ke Gunung Padang. Prabu Barma Wijaya lalu bertanya kepada Ajar Sukaresi kelak Dewi Naganingrum melahirkan laki-laki atau perempuan. Ajar Sukaresi menjawab laki-laki. Mendengar itu, Prabu Barma Wijaya tertawa senang dan menuduh Ajar Sukaresi seorang petapa palsu.

Tak disangka, ternyata Dewi Naganingrum benar-benar hamil, dan bukan kehamilan palsu. Prabu Barma Wijaya murka dan membunuh Ajar Sukaresi. Adapun Ajar Sukaresi tidak lain adalah Prabu Permanadikusumah yang telah menjadi petapa. Sebelum meninggal ia mengutuk bahwa kelak bayi yang dikandung Dewi Naganingrum akan mengalahkan Prabu Barma Wijaya. Setelah mengutuk demikian, arwah Ajar Sukaresi alias Prabu Permanadikusumah berubah wujud menjadi seekor naga bernama Nagawiru.

Ketika waktunya tiba, Dewi Pangrenyep melahirkan putra hasil perselingkuhannya dengan Prabu Barma Wijaya yang diberi nama Hariangbanga. Sementara itu, Dewi Naganingrum juga melahirkan bayi laki-laki namun segera ditukar Dewi Pangrenyep dengan anak anjing. Kemudian Prabu Barma Wijaya menghanyutkan bayi tersebut dalam keranjang di Sungai Citanduy dengan disertai sebutir telur, karena ia takut pada kutukan Ajar Sukaresi.

Prabu Barma Wijaya lalu mengumumkan kepada rakyat bahwa Dewi Naganingrum telah melahirkan anak anjing yang merupakan kutukan dewa, sehingga pantas untuk dihukum mati. Penasihat raja yaitu Ki Lengser ditugasi membunuh Dewi Naganingrum tetapi tidak tega melakukannya. Dewi Naganingrum pun disembunyikan dalam hutan, kemudian Ki Lengser melapor kepada Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep bahwa tugasnya telah dilaksanakan.

Sementara itu, bayi laki-laki yang dilahirkan Dewi Naganingrum ditemukan pencari ikan bernama Aki Balagantrang dan istrinya di Desa Gegersunten. Mereka sangat senang dan menjadikan bayi itu sebagai anak angkat. Adapun telur yang menyertai si bayi diserahkan kepada Nagawiru di Gunung Padang untuk dierami.

Waktu berlalu, si bayi telah tumbuh menjadi pemuda, sedangkan si telur telah menetas menjadi seekor ayam jantan. Pada suatu hari Aki Balagantrang mengajak anak angkatnya itu berburu di hutan dan mereka melihat seekor burung ciung dan seekor wanara (monyet). Karena tertarik melihat kedua binatang tersebut, si pemuda pun menamakan dirinya sendiri, Ciung Wanara.

Ciung Wanara kemudian membawa ayamnya pergi ke ibu kota Medangkamulyan. Kedatangannya menarik perhatian dua orang patih bernama Purawesi dan Puragading yang juga memelihara ayam. Mereka pun menantang Ciung Wanara menyabung ayam. Namun, dalam adu jago tersebut, ayam milik kedua patih itu tewas melawan ayam milik Ciung Wanara.

Berita ini sampai kepada Prabu Barma Wijaya. Ia pun tertarik untuk menyabung ayam dengan Ciung Wanara. Jika ayam miliknya kalah, maka Ciung Wanara akan diangkat sebagai anak dan mendapatkan setengah wilayah kerajaan. Sebaliknya, jika ayam milik Ciung Wanara kalah, maka pemuda itu harus dibunuh sebagai hukuman atas kelancangannya.

Pertandingan sabung ayam pun berlangsung seru. Mula-mula ayam milik Ciung Wanara terdesak. Tiba-tiba Nagawiru datang dan diam-diam merasuki ayam tersebut sehingga kekuatannya pulih dan berhasil mengalahkan ayam milik Prabu Barma Wijaya.

Prabu Barma Wijaya terpaksa menepati janjinya. Ia pun memberikan setengah Kerajaan Medangkamulyan kepada Ciung Wanara. Sedikit demi sedikit riwayat masa lalu Ciung Wanara terkuak pula oleh Ki Lengser. Ia lalu mempertemukan Ciung Wanara dengan ibu kandungnya, yaitu Dewi Naganingrum yang disembunyikan di dalam hutan.

Ciung Wanara lalu membalas kejahatan Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep. Keduanya dijebak sehingga masuk ke dalam penjara besi yang dibangun oleh Ciung Wanara. Mendengar kedua orang tuanya dikurung, Hariangbanga pun datang menyerang Ciung Wanara. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Ciung Wanara berhasil menangkap Hariangbanga lalu melemparkan tubuhnya hingga menyeberangi Sungai Cipamali.

LEGENDA JAKA SUSURU VERSI SUNDA

Demikianlah kisah Ciung Wanara dan Hariangbanga menurut versi Sunda. Lalu bagaimana dengan kisah Jaka Susuru? Ternyata Jaka Susuru adalah tokoh lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan Ciung Wanara dan Hariangbanga. Berikut mari kita simak rangkumannya.

Prabu Siliwangi VII raja Pakuan Pajajaran memberikan sebidang tanah di Hutan Pasagi Wetan kepada putranya yang bernama Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi. Maka berangkatlah sang pangeran dengan ditemani dua punggawa, yaitu Tumenggung Sewana Guru dan Tumenggung Sewana Giri. Setelah mencipta istana megah lengkap dengan prajuritnya di hutan tersebut menggunakan pusaka Jimat Makuta Siger Kencana, sang pangeran lalu melapor kepada ayahnya di Pakuan Pajajaran.

Prabu Siliwangi VII berkenan mendengarnya dan mengangkat Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi sebagai raja di istana baru tersebut, bergelar Prabu Jaka Susuru, sedangkan negaranya disebut Tanjung Singuru. Adapun kedua tumenggung tadi diangkat pula sebagai patih di sana.

Setelah menjadi raja, Prabu Jaka Susuru menikahi dua orang putri Prabu Jungjang Buana dari Kerajaan Bitung Wulung, yaitu Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang. Berita ini terdengar oleh Raja Gunung Gumuruh yang dulunya ingin menikahi Sekar Jayanti tetapi ditolak. Raja Gunung Gumuruh lalu datang ke Tanjung Singuru dan pura-pura mengundang Prabu Jaka Susuru untuk melihat intan sebesar kepala kerbau yang ia simpan di dasar Kawah Domas.

Prabu Jaka Susuru menerima undangan tersebut dengan disertai Patih Sewana Guru dan Patih Sewana Giri. Ketika mereka menengok ke dalam Kawah Domas, Raja Gunung Gumuruh menendang sehingga ketiganya pun jatuh tercebur ke dalam kawah. Raja Gunung Gumuruh lalu menutup kawah itu dengan batu besar sehingga Prabu Jaka Susuru dan kedua patihnya terkurung di dalam.

Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang yang masing-masing telah mengandung anak Prabu Jaka Susuru melarikan diri dari kejaran Raja Gunung Gumuruh. Kedua wanita itu lalu melahirkan di dalam hutan. Sekar Jayanti melahirkan putra bernama Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, sedangkan Jayanti Kembang melahirkan putra bernama Kebo Keremay Sakti Pangeran Giringsing Wyang.

Sepuluh tahun kemudian kedua wanita itu beserta anak-anak mereka mengungsi ke Kerajaan Tanjung Sumbara, meminta perlindungan Prabu Gajah Karumasakti. Mengetahui bahwa mereka adalah menantu Prabu Siliwangi VII, Prabu Gajah Karumasakti pun bersedia membantu. Ia lalu menyerang Kerajaan Tanjung Singuru dan berhasil mengalahkan Raja Gunung Gumuruh.

Raja Gunung Gumuruh bertobat dan ia kemudian membebaskan Prabu Jaka Susuru beserta kedua patihnya dari dalam penjara Kawah Domas. Prabu Jaka Susuru kembali bertakhta dan membawahi Prabu Gajah Karumasakti serta Raja Gunung Gumuruh.

NASKAH WANGSAKERTA DAN POLEMIK LEMBU TAL

Pada abad ke-20 ditemukan naskah berjudul Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara. Naskah ini terkenal pula dengan istilah Naskah Wangsakerta, karena konon ditulis oleh panitia yang dipimpin Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Adapun tahun penulisannya menurut mukadimah naskah tersebut adalah pada 1604 Saka atau 1682 Masehi.

Yang menjadi polemik dalam naskah ini adalah tentang pendiri Majapahit, yaitu Rahadyan Wijaya yang disebut sebagai putra pasangan Rakeyan Jayadarma dari Kerajaan Sunda Galuh dengan Dyah Lembu Tal dari Kerajaan Singhasari. Dengan kata lain, Dyah Lembu Tal disebut sebagai wanita yang memiliki nama lain Dewi Singhamurti. Anehnya, naskah tersebut secara tidak konsisten menyebut Dewi Singhamurti adalah putri Mahisa Campaka pada halaman 58, tapi kemudian berubah pada halaman 60, yaitu Mahisa Campaka disebut sebagai mertua Dewi Singhamurti.

Sebagian para ahli sejarah menyatakan bahwa Naskah Wangsakerta bukan naskah kuno, tetapi karya tulis modern dari abad ke-20 yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, bahkan terlalu kuno untuk ukuran abad ke-17. Isi dari naskah tersebut juga memiliki banyak kemiripan dengan hasil penelitian de Casparis, N.J. Krom, ataupun E. Dubois. Selain itu, lembaran naskah tersebut setelah digosok luntur warnanya dan setelah diamati ternyata merupakan kertas manila yang diolah dengan semacam zat kimia supaya menyerupai kertas kuno. Dengan demikian, itu berarti Naskah Wangsakerta tidak lebih tua daripada Babad Tanah Jawi, tetapi justru lebih muda usianya.

Naskah Wangsakerta yang menyebutkan bahwa Raden Wijaya adalah putra Sunda kiranya terinspirasi oleh kisah Jaka Sesuruh yang disebut berasal dari Pajajaran menurut Babad Tanah Jawi. Kisah tersebut kemudian diolah dan dipadukan dengan berita dari naskah kuno Carita Parahyangan. Perlu diketahui, bahwa dalam Carita Parahyangan sama sekali tidak disinggung soal Raden Wijaya. Itu artinya, satu-satunya naskah yang menyebut bahwa Raden Wijaya putra Sunda adalah Naskah Wangsakerta yang kontroversial tersebut.

Babad Tanah Jawi mengisahkan Jaka Sesuruh menyingkir ke timur meninggalkan Pajajaran menuju Singasari dibantu seorang janda bernama Nyai Randa Kaligunting. Maka, si penulis Naskah Wangsakerta pun memodifikasi kisah ini dengan menyebutkan bahwa setelah Rakeyan Jayadarma meninggal, Dyah Lembu Tal menjadi janda dan membawa Raden Wijaya meninggalkan Sunda Galuh menuju ke Singhasari. Dengan kata lain, Jaka Sesuruh ditafsirkan menjadi Raden Wijaya, sedangkan Nyai Randa Kaligunting ditafsirkan menjadi Dyah Lembu Tal.

Sungguh mengagumkan, penulis Naskah Wangsakerta sangat jenius karena imajinasinya yang mampu meramu berita sejarah dari berbagai sumber dan merangkainya kembali menjadi satu urutan menggunakan bahasa Jawa Kuno, dengan mencatut nama Pangeran Wangsakerta sebagai penulisnya. Sayang sekali, usahanya ini justru mengundang kecurigaan karena bahasa dalam naskah tersebut terlalu kuno untuk ukuran abad ke-17. Bukankah pada pembukaan Naskah Wangsakerta tertulis bahwa naskah itu disusun pada tahun 1682, tapi mengapa bahasa yang digunakan berasal dari abad ke-14? Selain itu, pada lembaran-lembaran Naskah Wangsakerta juga terdapat bekas tulisan pensil yang dihapus dengan penghapus karet kemudian ditindih tinta, suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Pangeran Wangsakerta.

Dengan demikian, penulis Naskah Wangsakerta adalah sejarawan abad ke-20 yang telah mempelajari hasil penelitian para ahli seperti de Casparis, N.J. Krom, E. Dubois, dan sebagainya, lalu memadukannya dengan Pararaton, Nagarakretagama, Carita Parahyangan, dan Babad Tanah Jawi, menjadi sebuah naskah sejarah berbahasa Jawa Kuno, dengan mencatut nama Pangeran Wangsakerta yang merupakan pakar sejarah dari Kesultanan Cirebon abad ke-17.

Naskah Wangsakerta dengan berani menyebut Dyah Lembu Tal sebagai wanita, namun kurang konsisten karena di halaman 58 ia disebut sebagai putri Mahisa Campaka, tetapi di halaman 60 ditulis sebagai menantu Mahisa Campaka. Pada halaman 58 bunyinya seperti ini : “déwi singhamurti ngaranira yata putrining mahisa campaka mituhu sang mahākawi jawa ikang déwi singhamurti ngaranira dyah lembu tal sakéng pakurenira déwi singhamurti lawan rakryan jayadarma manak ta sira sang nararya sanggramawijaya”. Sedangkan dalam halaman 60 demikian bunyinya : “déwi singhamurti lawan putranira yatiku radén wijaya kala raray wangsuling bhumya nagaranira hurip lawan ramatuhanira mahisa campaka”.

Sepertinya si penulis terjebak pada gelar Dyah yang dipakai Lembu Tal. Memang pada zaman modern nama Dyah identik dengan kaum wanita. Akan tetapi, pada zaman Majapahit sebutan Dyah adalah gelar kebangsawanan yang bisa dipakai laki-laki atau perempuan. Dalam sejumlah prasasti peninggalan Majapahit banyak dijumpai nama pangeran dan pejabat yang bergelar dyah, misalnya Dyah Wijaya, Dyah Halayudha, Dyah Pamasi, Dyah Puruseswara, Dyah Hayamwuruk, Dyah Ranawijaya, Dyah Kertawijaya, Dyah Wijayakumara, Dyah Suraprabhawa, dan sebagainya. Itu artinya, gelar dyah dalam tradisi Jawa Kuno bukan milik kaum wanita saja.

Kemudian mari kita lihat nama Lembu Tal. Dalam tradisi Jawa nama Lembu, Mahisa, Kebo, Gajah, dan Kuda selalu digunakan untuk kaum laki-laki sebagai simbol kejantanan. Sebut saja nama Lembu Sora, Lembu Nala, Lembu Amiluhur, Lembu Amijaya, Mahisa Anabrang, Mahisa Mundarang, Kebo Hijo, Kebo Kenanga, Kebo Kanigara, Gajah Mada, Gajah Biru, Gajah Pagon, Kuda Anjampyani, Kuda Amreta dan sebagainya. Semuanya adalah kaum laki-laki. Dengan demikian, nama Lembu Tal sudah pasti juga laki-laki, karena tidak ada ceritanya orang Jawa memberikan nama Lembu untuk anak perempuan.

Sekarang mari kita cari naskah mana yang mula-mula menyebut nama Dyah Lembu Tal, yang diubah jenis kelaminnya oleh penulis Naskah Wangsakerta itu. Dalam kakawin Nagarakretagama bait ke-174 karya Prapanca, kita jumpai kalimat sebagai berikut :
“sri narasinghamurttyaweka ri dyah lembu tal susrama sang wireng laga dhinarmma ri mireng boddha pratista pageh”

Kalimat tersebut diterjemahkan oleh Prof. Ketut Riana sebagai berikut : “Sri Narasinghamurti ayah Dyah Lembu Tal yang terpuji, pemberani dalam pertempuran diabadikan di mireng dalam wujud arca Buddha”.

Terjemahan ini dimanfaatkan oleh para pendukung Naskah Wangsakerta bahwa tokoh yang dipuji Prapanca sebagai “pemberani dalam pertempuran” adalah Narasinghamurti (Mahisa Campaka), bukan Lembu Tal.

Sayang sekali, terjemahan Prof. Ketut Riana tersebut sedikit keliru, karena kata “aweka” artinya adalah “berputra”, bukan “ayah”. Sehingga, kalimat “sri narasinghamurttyaweka ri dyah lembu tal” harusnya diterjemahkan “Sri Narasinghamurti berputra Dyah Lembu Tal”, bukan diterjemahkan “Sri Narasinghamurti ayah Dyah Lembu Tal”.

Maka, kalimat terjemahan selengkapnya yang lebih tepat adalah : “Sri Narasinghamurti berputra Dyah Lembu Tal terpuji yang pemberani dalam pertarungan dan didharmakan di Mireng dengan arca Buddha ditegakkan di sana.”

Dengan demikian, pujian “sang wireng laga” ditujukan untuk Dyah Lembu Tal, bukan untuk Sri Narasinghamurti. Itu artinya, Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, karena Prapanca dalam Nagarakrtagama lebih suka memuji para wanita dalam hal kecantikannya, bukan keberaniannya.

KESIMPULAN

Babad Tanah Jawi disusun oleh pujangga Keraton Kartasura untuk melegitimasi kekuasaan Pakubuwana I sebagai pemimpin sah Dinasti Mataram pasca-perang saudara melawan Amangkurat III. Disebutkan dalam naskah itu bahwa Mataram adalah kelanjutan Majapahit, Pajajaran, Jenggala, Medang Koripan, Pengging, Kediri, bahkan Hastinapura yang sudah “dijawakan”. Berita ini hendaknya dimaknai secara simbolis, bukan dimaknai sebagai fakta. Sesungguhnya maksud dari penyusunan silsilah ini adalah untuk mengumumkan bahwa Dinasti Mataram meskipun keturunan petani tapi memiliki darah raja-raja Majapahit, Pajajaran, Jenggala, Pengging, Kediri, dan seterusnya ke atas, sehingga mereka berhak dan pantas memimpin Tanah Jawa.

Berita tentang Jaka Sesuruh pangeran Pajajaran yang mengungsi ke timur bersama Nyai Randa Kaligunting dalam Babad Tanah Jawi diolah sedemikian rupa dalam Naskah Wangsakerta menjadi Raden Wijaya putra Sunda yang mengungsi ke timur bersama Dyah Lembu Tal sang janda. Naskah ini diberi angka tahun 1682 sehingga seolah-olah lebih tua daripada Babad Tanah Jawi, padahal sebenarnya ditulis pada abad ke-20 memakai bahasa Jawa Kuno. Berita ini akhirnya menjadi polemik dan kontroversi, seakan-akan Babad Tanah Jawi membenarkan berita Naskah Wangsakerta.

Padahal, berita bahwa Majapahit adalah kelanjutan Pajajaran dalam Babad Tanah Jawi hendaknya dimaknai secara politis, bukan dimaknai secara historis, karena sang pujangga keraton jelas-jelas mencatut legenda pantun Sunda, yaitu Jaka Susuru, pendiri Kerajaan Tanjung Singuru (yang saat ini dikenal sebagai Bojong Singuru di Kabupaten Ciamis), dan mengubah namanya menjadi Jaka Sesuruh.

Dengan demikian, perlu dipertegas bahwa pendiri Kerajaan Majapahit yang benar sesuai sumber prasasti dan kakawin adalah Dyah Wijaya, bukan Jaka Sesuruh. Untuk selanjutnya, alangkah baiknya untuk tidak lagi menyama-nyamakan Jaka Sesuruh dengan Dyah Wijaya, karena itu sama artinya dengan mencampuradukkan antara versi fantasi dengan versi historis.